PERMULAN BELAJAR UKURAN BELAJAR
DAN TATA TERTIBNYA
- Akan kurang lebih indah jika kita mencari ilmu jika tidak mengetahui bagaimana cara memperolehnya.Ini adalah cara cara mencari ilmu dengan benar.
- Hari Mulai Belajar
Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin
memulai belajar tepat Pada hari rabu. Dalam hal ini beliau telah meriwayatkan
sebuah hadist sebagai dasarnya, dan ujarnya: Rasulullah saw bersabda: ” tiada
lain segala sesuatu yang di mulai pada hari rabu, kecuali akan menjadi
sempurna.”
وهكذا
كان يفعل أبى. وكان يروى هذا الحديث عن أستاذه الشيخ الإمام الأجل قوام الدين أحمد
بن عبد الرشيد رحمه الله
Dan seperti ini pula yang dikerjakan
Abu Hanifah. Mengenai hadist di atas, beliau juga diriwayatkan dari guru beliau
Syaikhul Imam Qawamuddin Ahmad bin Abdur Rasyid.
وسمعت
ممن أثق به، أن الشيخ يوسف الهمذانى رحمه الله، كان يوقف كل عمل من الخير على يوم
الأربعاء.
Saya mendengar dari orang
kepercayaanku, bahwa Syekh Abu Yusuf Al-Hamdani juga menepatkan semua perbuatan
bagus pada hari rabu.
وهذا
لأن يوم الأربعاء يوم خلق فيه النور، وهو يوم نحس فى حق الكفار فيكون مباركا
للمؤمنين.
Demikianlah, karena pada hari rabu
itu Allah menciptakan cahaya, dan hari itu pyla merupakan hari sial bagi orang
kafir yang berarti bagi orang mukmin hari yang berkah.
- Panjang Pendeknya Pelajaran
Mengenai ukuran seberapa panjang
panjang yang baru dikaji, menurut keterangan Abu Hanifah adalah bahwa Syaikh
Qadli Imam Umar bin Abu Bakar Az-Zanji berkata: guru-guru kami berkata:
“sebaiknya bagi oarang yang mulai belajar, mengambil pelajaran baru sepanjang
yang kira-kira mampu dihapalkan dengan faham, setelah diajarkannya dua kali
berulang. Kemudian untuk setiap hari, ditambah sedikit demi sedikit sehingga
setelah banyak dan panjang pun masih bisa menghapal dengan paham pula setelah
diulanga dua kali. Demikianlah lambat laun setapak demi setapak. Apabila
pelajaran pertama yang dikaji itu terlalu panjang sehingga para pelajar
memerlukan diulanganya 10 kali, maka untuk seterusnya sampai yang terakhirpun
begitu. Karena hal itu menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan kecuali dengan
susah payah.”
وقد
قيل: السبق حرف، والتكرار ألف
Ada dikatakan: “pelajaran baru satu
huruf, pengulangannya seribu kali.”
- Tingkat Pelajaran Yang Di Dahulukan
Sebaiknya dimulai dengan pelajaran-pelajaran yang dengan mudah telah bisa di
fahami. Syaikhul Islam Ustadz Syarifuddin Al-Uqaili berkata; “Menurut saya,
yang benar dalam masalah ini adalah seperti yang telah dikemukakan oleh para
guru kita. Yaitu untuk murid yang baru, mereka pilihkan kitab-kitab yang
ringkas/kecil. Sebab dengan begitu akan lebih mudah di fahami dan di hapal,
serta tidak membosankan lagi pula banyak terperaktekan.
- Membuat Catatan
وينبغى
أن يعلق السبق بعد الضبط والإعادة كثيرا، فإنه نافع جد
Sebaiknya sang murid membuat catatan
sendiri mengenai pelajaran-pelajaran yang sudah di fahami hafalannya, untuk
kemudian sering diulang-ulang kembali. Karena dengan cara begitu, akan
bermanfaat sekali.
ولا
يكتب المتعلم شيئا لا يفهمه، فإنه يورث كلالة الطبع ويذهب الفطنة ويضيع أوقاته.
Jangan sampai menulis apa saja yang
ia sendiri tidak tahu maksudnya, karena hal ini akan menumpulkan otak dan
waktupun hilang dengan sia-sia belaka.
- Usaha Memahami Pelajaran
Pelajar hendaknya mencurahkan
kemampuannya dalam memahami pelajaran dari sang guru, atau boleh juga dengan cara
diangan-angan sendiri, di fikir-fikir dan sering diulang-ulang sendiri. Karena
bila pelajaran yang baru itu hanya sedikit dan sering diulang-ulang sendiri,
akhirnyapun dapat dimengerti. Orang berkata : “Hafal dua huruf lebih bagus
daripada mendengarkan saja dua batas pelajaran. Dan memahami dua huruf lebih
baik daripada menghapal dua batas pelajaran. Apabila seseorang telah pernah
satu atau dua kali mengabaikan dan tidak mau berusaha, maka menjadi terbisakan,
dan menjadi tidak bisa memahami kalimat yang tidak panjang sekalipun.
- Berdo’a
Hendaknya pula, dengan
sungguh-sungguh memanjatkan do’a kepada Allah dan meratap serta meronta. Allah
pasti mengabulkan do’a yang di mohonkan, dan tidak mengabaikan orang yang
mengharapkan.
Sya’ir Imlak Al-Qadli Al-Khalil
Asy-Syajarzi dibawakan kepada kami oleh guru kami syaikh Qawamuddin Hammad bin
Ibrahim bin ismail As-Shaffar, sebagai berikut :
- Abdilah ilmu, bagaikan anda seorang abdi
Pelajari selalu, dengan berbuat
sopan terpuji
- yang telah kau hafal, ulangi lagi berkali-kali
lalu tambatkan dengan temali kuat
sekali
- Lalu catatlah, agar kau bisa mengulangi lagi
Dan selamanya, ku bisa mempelajari
- Jikalau engkau, telah percaya tak kan lupa
Ilmu yang baru, sesudah itu masuki
segera
- Mengulang-ulang, ilmu yang dulu, jangan terlalai
Dan bersungguhan, agar yang ini, kan
menambahi
- Percakapilah mereka, agar ilmumu hidup selalu
Jangan menjauh, dari siap berakal
maju
- Bila ilmu, kau sembunyikan jadi membeku
Kau kan kenal, jadi si bodoh yang
tolol dungu
- Api neraka kan membelenggumu nanti kiamat
Siksa yang pedihpun menimpamu menjilat-jilat
- Mudzakarah Munadharah Dan Mutharahah
Seorang pelajar seharusnya melakukan
Mudzakarah (forum saling mengingatkan), munadharah (forum saling mengadu
pandangan) dan mutharahah (diskusi). Hal ini dilakukan atas dasar keinsyafan,
kalem dan penghayatan serta menyingkiri hal-hal yang berakibat negatif.
Munadharah dan mudzakarah adalah cara dalam melakukan musyawarah, sedang
permusyawaratan itu sendiri dimaksudkan guna mencari kebenaran. Karena itu,
harus dilakukan dengan penghayatan, kalem dan penuh keinsyafan. Dan tidak akan
berhasil, bila dilaksanakan dengan cara kekerasan dan berlatar belakang yang
tidak baik.
فإن
كانت نيته من المباحثة إلزام الخصم وقهره، فلا تحل، وإنما يحل ذلك لإظهار الحق.
والتمويه والحيلة لا يجوز فيها، إلا إذا كان الخصم متعنتا، لا طالبا للحق. وكان
محمد بن يحيى إذا توجه عليه الإشكال ولم يحضره الجواب يقول: ما ألزمته لازم، وأنا
فيه ناظر، وفوق كل ذى علم عليم.
Apabila di dalam pembahasan itu
dimaksudkan untuk sekedar mengobarkan perang lidah, maka tidak diperbolehkan
menurut agama. Yang diperbolehkan adalah dalam rangka mencari kebenaran. Bicara
berbelit-belit dan membuat alasan itu tidak diperkenankan, selama musuh
bicaranya tidak sekedar mencari kemenangan dan masih dalam mencari kebenaran.
Bila kepada Muhammad bin Yahya diajukan suatu kemuskilan yang beliau sendiri
belum menemukan pemecahannya, maka ia katakan : “pertanyaan anda saya catat
dahulu untuk kucari pemecahannya. Diatas orang berilmu, masih ada yang lebih
banyak ilmunya.”
وفائدة
المطارحة والمناظرة أقوى من فائدة مجرد التكرار لأن فيه تكرارا وزيادة. وقيل:
مطارحة ساعة، خير من تكرار شهر. لكن إذا كان [مع] منصف سليم الطبيعة. وإياك
والمذاكرة مع متعنت غير مستقيم الطبع، فإن الطبيعة متسرية، والأخلاق متعدية،
والمجاورة مؤثرة.
Faedah mutharahah dan mudzakarah itu
jelas lebih besar daripada sekedar mengulang pelajaran sendirian, sebab
disamping berarti mengulang pelajaran, juga menambah pengetahuan yang baru. Ada
dikatakan : “Sesaat mutharahah dilakukan, lebih bagus mengulang pelajaran
sebulan. “Sudah tentu harus dilakukan dengan orang yang insaf dan bertabiat
jujur. Awas jangan mudzakarah dengan orang yang sekedar mencari menang dalam
pembicaraan semata, lagi pula bertabiat tidak jujur. Sebab tabiat itu suka
merampas, akhlak mudah menjalar sedang perkumpulan pengaruhnya besar.
Syi’ir yang dibawakan oleh Khalil
bin ahmad di atas, telah banyak membawa petunjuk. Ada dikatakan :
- Persyaratan ilmu bagi pengabdinya
- Menjadikan seluruh manusia, agar mengabdi kepadanya
- Menggali Ilmu
وينبغى
لطالب العلم أن يكون متأملا فى جميع الأوقات فى دقائق العلوم ويعتاد ذلك، فإنما
يدرك الدقائق بالتأمل، فلهذا قيل: تأمل تدرك.
Pelajar hendaknya membiasakan diri
sepanjang waktu untuk mengangan-angan dan memikirkan. Karena itu, orang berkata
: “angan-anganlah, pasti akan kau temukan.”
Tidak bisa tidak, agar omongan tepat
itu harus terlebih dahulu di angan-angan sebelum berbicara. Ucapan adalah
laksana anak panah, dimana tepat pada sasaran bila dibidikan terlebih dahulu
dengan mengangan-angan. Dalam Ushul Fiqh ada dikatakan bahwa mengangan-angan
adalah dasar yang amat penting. Maksudnya, hendaklah ucapan ahli fiqh yang
teliti itu terlebih dahulu harus diangan-angan. Ada diaktakan : “Modal akal
ialah ucapan yang tidak sembarangan serta diangan-angan terlebih dahulu.” Lain
orang berkata :
- Pesan untukmu, tata bicara ada lima perkara
Jika kau taat pada pemesan yang suka
rela
- jangan sampai terlupa :
apa sebabnya, kapan waktunya,
bagaimana caranya,
berapa panjangnya dimana tempatnya
itulah semua.
Seluruh waktunya dan dalam situasi
bagaimanapun, pelajar hendaknya mengambil pelajaran dari siapapun. Rasulullah
saw bersabda: “Hikmah itu barang hilangnya orang mukmin dimana asal ia temui
supaya diambil juga.” Ada dikatakan: “Ambillah yang jernih tinggalkanlah yang
keruh.” Saya mendengar ucapan Syaikhul Imam Ustadz Fakhrudin Al-Kasyani :
“Adalah jariyah Abu Yusuf menjadi amanat buat Muhammad, lalu kepada Muhammad
bertanya: Adakah sekarang saudari masih hafal sedikit tentang fiqh dari Abu
Yusuf? Jawabnya : ah, tidak tuan, hanya saya ketahui ia sering mengulang-ulang
ilmunya dan pernah berkata: “Saham daur itu gugur tak dapat bagian. “Dengan itu
Muhammad lalu menjadi hafal dan yang tadinya masalah saham daur terasa sulit
bagi muhammad, sekarang sudah terpecahkan. Akhirnya tahulah bahwa belajar itu
bisa dilaksanakan dari siapa saja.”
ول
Dikala kepada Abu Yusuf ditanyakan:
“Dengan apakah tuan memperoleh ilmu? beliau menjawab: “Saya tidak merasa malu
belajar dan tidak kikir mengajar”. Ada ditanyakan kepada Ibnu Abbas ra :
“dengan apakah tuan mendapat ilmu?” beliau menjawab : “Dengan lisan banyak
bertanya dan hati selalu berpikir.”
Adanya pelajar digelari dengan “Ma
Taqulu” (Bagaimana keteranganmu) sebab pada masa dulu mereka amat terbiasa
untuk mengucapakan “Bagaimana keterangan anda dalam masalah ini?”
Hanya dengan banyak mutharahah dan
mudzakarah di kedainyalah, Abu Hanifah pedagang kain itu menjadi alim fiqh.
Melihat kenyataan tersebut, kita bisa tahu bahwa menuntut ilmu dan fiqh itu
bisa pula dilakukan bersama-sama dengan bekerja mencari uang. Abu Hafsh
Al-Kabir sendiri bekerja sambil mengulang-ulang pelajarannya sendiri. Karena
itu, apabila seorang pelajar harus juga mencarikan nafkah keluarga dan segenap
tanggungannya, bisalah kiranya di tengah-tengah keasyikan bekerjanya itu sambil
mempelajari sendiri pelajarannya dengan semangat dan segiat mungkin.
- Pembiayaan Untuk Ilmu
وليس
لصحيح العقل والبدن عذر فى ترك التعلم والتفقه، فإنه لا يكون أفقر من أبى يوسف،
ولم يمنعه ذلك من التفقه.
Orang yang kebetulan sehat badan dan
pikirannya, tiada lagi alasan baginya untuk tidak belajar dan tafaqquh sebab
tidak ada lagi yang lebih melarat daripada Abu Yusuf, tapi toh tidak pernah
melupakan pelajarannya.





2 komentar:
Waduh...keren.....thanks atas infonya ya....
iya masa masa ya,..
Posting Komentar